Pengalaman “bercinta” di udara ^_^ October 20, 2009
Posted by Purwo Subagiyo in Cerita Kerjaan.1 comment so far
Sungguh pengalaman pertama bagi saya itu rasanya seperti “bercinta” di udara, eitssss…tapi jangan punya pikiran ngeres dulu yah. Semua ini bermula dari survei yang sedang dibuat di kantor saya. Yap…pengalaman terbang dengan dunia penerbangan di Indonesia memang menjanjikan suatu pengalaman yang berharga apalagi yang baru pertama melakukannya…
Anggap saja istilah “bercinta” ini kita deskripsikan sebagai suasana perasaan hati yang kita alami selama melakukan perjalanan udara, biar sama visi dan misinya=). Dan bukan untuk hal yang satu itu, penulis gak ikutan yah kalau ada yang sampe salah tanggap ^_^
Pengalaman “bercinta” saya yang pertama adalah sewaktu melakukan kunjungan untuk perjalanan ke toraja bareng beberapa teman2 fotografer Indonesia. Ceritanya saya naik maskapai dengan inisial L ^_^ perjalanan cukup menyenangkan walaupun benar2 cukup menegangkan karena baru pertama kali, apalagi harus dengar cerita banyaknya pesawat yang jatuh =(
Perjalanan 2 jam melintasi lautan menuju makasar akhirnya sampai juga dengan pendaratan yang agak kasar di makasar
namun anehnya sewaktu berpulang ke Jakarta dengan maskapai yang sama dan mendarat di soeta bisa lebih mulus mendaratnya…so, saya menyimpulkan bahwa kemampuan pilot mungkin jadi pertimbangan yang cukup gede untuk membawa pesawat terbang dengan semupurna ^_^
Lanjut yah…
Berbeda dengan acara Pas hari H, saya membawa total 13 orang dari Jakarta, mana yang dibawa adalah orang2 yang memang sudah punya nama besar, salah satunya pak sigit, yang karya fotonya sudah sangat terkenal dan dicetak ke beberapa buku. Penerbangan ini memakai penerbangan dengan maskapai G, yang terkenal dengan reputasinya yang paling baik dan untuk rute yang sama harus keluar kocek cukup dalam.
Untuk penerbangan ini saya cukup puas, baik dalam masa “bercinta” eh terbang ^_^ dan juga pelayanan dalam pemesanan tiket “bercinta”nya, aduh…kayanya salah buat judul deh..maaf yah =) nah intinya saya puas..tenang terbang dan juga nyaman selama dalam proses perjalanan.
Proses pemindahan rute perjalanan yang terpaksa saya rubahpun dikerjakan dengan baik oleh maskapai G ini, cepat, tidak rumit dan sangat membantu. Pak sigit yang harus ke jogja dari makasarpun bisa langsung jalan dengan bantuan pelayanan yang baik ini. Good job=)
Nah pulangnya yang pas seru, masih dengan maskapai G, detik2 2 jam menjelang kepulangan ke Jakarta yang saya sangat nantikan. Ketika proses check in dan barang saya sudah masuk kebagasi, mendadak penerbangan ke Jakarta dibatalkan karena pesawat rusak di menado dan baru siap besok pagi..oh god, apa salah kami.
Pihak perwakilan maskapai G menawarkan opsi untuk dipindah ke penerbangan lain dengan maskapai yang lain yang kelasnya jauh dibawah dengan tanpa konpensasi pengurangan harga. Ada seorang ibu yang komplain bilang naik Maskapai G karena keamanannya dan juga keselamatannya yang baik. Ditanya apakan kalau naik maskapai lain dijamin tidak jatuh si petugas dengan tenang menjawab. Insya allah bu, kalau cuaca bagus pasti baik2 saja, gubrakkkkkk
Makin tegang aja niyh, sementara rombongan saya yang juga salah satunya adalah wartawan senior melayangkan gugatan keras dengan minimal harus diinapkan di hotel dan baru berangkat besok pagi seperti yang ditawarkan oleh maskapai G dengan “terpaksa” atau bakal ditulis sebagai sebuah komplain di medianya…
Nah makin runyam, rombongan saya pun terbelah menjadi dua. Ada yang mau nginep di hotel, ada yang mau juga lanjut dengan pasrah…”gak ah” kalau terbang nanti gw masuk headline koran gw sendiri lagi besok, begitu kelakar wartawan senior tersebut yang memang selalu menjadi peserta yang membuat kita bisa terhibur ^_^
Akhirnya, diputuskan kita lanjut dengan tawaran maskapai M dengan kapal yang tidak sebagus sebelumnya. Kita diwajibkan pakai masker, karena lagi musim flu babi =) nah, hanya pesawat ini niy yang ada modelnya begini. Ya gpp juga daripada amit2 sampe terkena virus..khan gak lucu ;(
Akhirnya kita terbang dan you know what? Landingnya lembut abis, gak berasa, dan tidak ada kasarnya sama sekali=) penerbangan juga lancer kecuali kelakukan penumpangan ada yang berisik dan sesuai dengan karakter penggunanya=)….pramugarinya cantik, pilotnya jago…so ekspetasi saya salah..jadi saya menyimpulkan pilot dan pengalamannya no 1…=) dan tentunya kelayakan pesawat yang prima=)
Mendarat di Jakarta, salah satu peserta bilang penerbangan kita banyak yang suka membatalkan penerbangan secara sepihak tanpa ada keterangan jelas apalagi kalau ketauan jumlah penumpangnya sedikit yang tentunya kalau tetap terbang akan rugi..oh god, alasan ekonomis =) Cuma ada di Indonesia niy…
Akhirnya saya lupakan itu semua dan saya langsung menyantap resto jagonya ayam untuk memuaskan rasa kesal saya dan melaju dengan nikmat dengan bus damri menuju rumah tercinta dan istirahat dengan tenang =)
Adakah dari teman2 yang punya pengalaman serupa? Atau ada yang pernah sampai dibuat kesal sampai ubun2? Berbagi juga kalau ada yang puas dengan maskapai tertentu agar sistem reward dan punishmentnya bisa seimbang=)
Tujuannya Cuma satu kok, biar dunia penerbangan kita bisa menjadi lebih baik. Setelah saya submit, saya tinggal berdoa semoga kontribusi saya dan teman2 bisa memberikan salah satu sumbangsih bagi kemajuan dunia penerbangan..ayo kita berbagi pengalaman yah..buat mba silly dan mba venus thx buat lapaknya untuk saya curhat dan ngerumpi yah ^_^
Yes…It’s batik’s days October 2, 2009
Posted by Purwo Subagiyo in Cerita Kerjaan.add a comment

Batik Kreatif
yes,,it’s batik’s days

Ya hari ini adalah hari batik, unesco sudah mengumumkan hari ini bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia.
Setelah nyaris tidak mendapatkan batik karena tidak pulang kerumah saya bisa memakai batik pinjaman dari irwan…inginnya ketemu adequh. tapi ditolak karena saya gak make batik pemberiannya…
hanya bisa sedih =(
Salam
Purwo Subagiyo
Memburu pesta adat Rambu Solo September 17, 2009
Posted by Purwo Subagiyo in Cerita Kerjaan.add a comment
Entri oleh Purwo Subagiyo / September 8th, 2009

Hari masih pagi ketika rombongan Toraja Rock Art 2009 akan melakukan perjalanan selama lima hari menjelajah keindahan alam Toraja. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Sony Indonesia dan National Geographic Indonesia ini membawa 12 Orang peserta dari Jakarta yang terdiri 8 fotografer profesional, 1 perwakilan Sony Indonesia, dan 3 panitia dari National Geographic Indonesia.
Dalam rombongan ini juga menyertakan 2 orang pemenang kontes foto Toraja Rock Art 2009 yaitu Aman Rochman untuk pemenang dari Kategori Umum dan Raditya Rama untuk Kategori Mahasiswa yang berasal dari Bali.

Masing-masing peserta dipisah berdasarkan asalnya yaitu Jakarta, Surabaya, dan Bali. Tepat tanggal 11 Agustus 2009 pukul 9.00 pagi, semua peserta berkumpul di Bandara Sultan Hassanudin Makasar.. Setelah berkumpul di tempat yang telah ditentukan, peserta dibagi ke dalam lima kelompok yang dipecah ke dalam lima mobil yang telah disediakan.
Target utama perjalanan di hari pertama ini adalah menuju Toraja, dengan transit di restoran Kupa Beach di Pare-Pare dan juga Erotic Mountain untuk menikmati hangatnya kopi sembari rehat sejenak. Perjalanan dari Makassar ke Toraja sendiri ditempuh kurang lebih 9 jam perjalanan darat. Perjalanan ini terbilang cukup lama karena jalan darat menuju Toraja sedang mengalami perbaikan antara Kota Pare-Pare dan Enrekang. Otomatis waktu tempuh juga menjadi cukup panjang sehingga satu hari hanya dihabiskan untuk perjalanan.

Rombongan tiba tepat pukul 7 malam waktu setempat di Toraja Heritage Hotel. Setelah pembagian kamar, peserta melanjutkan makan malam, serta mendapatkan penjelasan mengenai pemotretan esok harinya dan tentunya pembagian kaos seragam yang harus digunakan selama kegiatan hunting foto di Toraja.
Hari kedua, setelah sarapan pagi, peserta langsung menuju ke Lemo, sebuah kompleks pemakaman di atas tebing. Dalam kompleks ini hanya ada satu buah pemakaman dan di depannya terhampar luas persawahan dan dijadikan tempat yang ideal untuk pemotretan bagi para fotografer.
Hunting yang cukup singkat ini langsung diteruskan ke Sanggala. Di tempat ini peserta disajikan kesempatan langka untuk meliput acara Rambu Solo. Rambu Solo merupakan upacara adat kematian di Toraja. Tidak setiap saat acara ini ada dan juga dirayakan dalam pesta yang besar.

Untuk bisa mudah dan leluasa mendokumentasikan upacara adat ini kami menyumbangkan ”seserahan” berupa satu ekor babi yang cukup besar. Dengan memberikan ”hadiah” ini maka kita dianggap sebagai bagian dari keluarga juga atau seperti tamu yang istimewa. Bang John Lebar sebagai pemandu kita yang membuka jalan kita ini menyarankan untuk memakai seragam agar samar dan terkesan menyatu dengan keluarga yang berkabung. Alhasil kita diwajibkan memakai kain sarung hitam yang harus dikenakan selama acara berlangsung.

Langkah ini sangat tepat, dengan tambahan seragam ini kami bebas bergerak memotret dengan tersamar dan tidak menggangu acara yang berlangsung.


Nantikan seri liputan Toraja berikutnya




